Temen-temen pasti tahu doong film 5cm yang nge-Trend tahun 2012 lalu? Nah, buat temen-temen yang mulai lupa jalan ceritanya, nih aku kasih sinopsis singkatnya buat kalian. Happy reading, guys ;)
Cerita berawal dari sebuah tongkrongan lima orang yang
sudah kehabisan pokok bahasan di saat-saat nongkrong sehingga akhirnya hanya
bisa ketawa-ketawa. Mereka adalah Arial, Zafran, Ian, Genta, dan Riani.
Arial adalah sosok yang paling menawan diantara
mereka. Riani yang berkacamata namun juga cantik, cerdas, dan seorang N-ACH
sejati. Zafran seorang penyair yang selalu bimbang. Ian, badannya gendut subur,
kepalanya botak plontos. Genta, “the leader”, dengan badan agak besar dengan
rambut agak lurus berjambul.
Lagu The Cure - Picture of You terdengar lembut dari
tape mobil Ian di sepanjang jalan Diponegoro, Menteng. Lima orang di dalam
mobil itu baru aja makan bubur ayam di Cikini. Mereka sepakat, untuk entah keberapa
kalinya, pergi ke rumah Arial yang luas dan asri. Semuanya teringat, tiga
tahunan yang lalu ketika mereka baru berempat dan belum jadi “Power Rangers”.
Tiba-tiba..
“Mungkin sebaiknya kita nggak usah ketemu dulu,” Genta
mengalirkan kalimat pendek. “Kita ketemu lagi tanggal 14 Agustus yah,” Genta
meyakinkan teman-temannya. “Pokoknya nanti gue bikin reminder untuk tanggal 14
Agustus di handphone, tanggal 7 Agustus gue kasih tau planningnya aja lewat
SMS, di mana kita akan ketemuan,” lanjut Genta.
7 Agustus jam 09.00 pagi, Genta mengirim SMS kepada 4
temannya. Selamat pagi semuanya gw kangeeeen bgt sm kalian semua, sumpah! Tgl
14 agt nanti qta ktm di stasiun kereta api senen jam 2 siang. Trus kl ada acara
dr 14 – 20 Agustus lo batilin dulu yaa. Please... ini yg hrs dibw kl gak ada
minjem ya. Kan ada wkt seminggu: Carrier. Bajuanget yg bnyk.senter dan batere.
Makanan dan snack buat 4 hari.... kacamata item.betadine,obat.sendal sepatu.kl
bs mulai hari ini olahraga kecil kecilan, apalagi buat Ian.gitu aja ya.sampai
ktm distasiun senen jam 2. Genta yg lg kangen.
14 Agustus. Satu lebih tiga puluh lima menit. Siang
itu daerah Senen panas sekali. Di stasiun Senen, Genta dengan bawaannya yang
superbanyak, menikmati makan siang di salah satu restoran Padang. Tiba-tiba
sosok Zafran terlihat oleh Genta dengan carriernya yang gede, baju oranye
menyala, celana pendek, dan kacamata eighties ala Erik Estrada di film
CHIPs-membuat Zafran terlihat nyentrik. Sosok Ian dan Riani penuh senyum
berlari kecil memasuki Restoran Padang. Arial datang dengan membawa adiknya,
Dinda.
Pukul setengah tiga lebih, mereka berenam plus barang
bawaan yang mirip rombongan pecinta alam pun menuju ke kereta yang siap
berangkat. Kereta ekonomi MATARMAJA yang entah sudah berapa tahun melayani
trayek Malang-Jakarta pulang pergi ini tampak begitu tua dan kumuh, dengan
kaca-kaca yang sudah pecah. Setelah membereskan barang bawaan, mereka duduk
berenam, berhadap-hadapan. Riani dan Dinda duduk berhadapan di pojok dekat
jendela. Genta di sebelah Riani berhadapan dengan Arial, dan Zafran di sebelah
Arial berhadapan dengan Ian. Lima menit kemudian kereta pun mulai bergerak
meninggalkan Stasiun Senen. Kereta bergerak perlahan dengan sesekali
mengeluarkan angin dari sambungan gerbongnya.
Ian lalu lancar bercerita tentang jumpalitannya selama
dua bulan. Ia yang pantang menyerah, dua kali penolakan kuisionernya,
menakjubkannnya Sukonto Legowo, Mas Fajar, keriputnya tangan Papa-Mama,
sidangnya, pokonya semua Ian ceritakan. Arial mulai bercerita tentang Indy,
wanita yang telah merebut hatinya, Indy yang tampangnya biasa aja tapi enak
dilihat dan nggak bikin bosen. Indy yang selalu mengisi hari-hari Arial selama
ini.
Setengah malam telah lewat. Kereta tua yang tak kenal
lelah itu mulai menyapa kota-kota di Jawa Tengah, melaju cepat di atas tanah
Jawa di malam hari. Jalan desa dan jalan kota-kota tua yang damai dan sepi.
Setengan tiga malam di Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta. Genta, Riani, Zafran,
dan Dinda turun dari kereta, menginjakkan kaki di ubin putih yang mulai
kekuningan di stasiun Lempuyangan Jogjakarta. Mereka berjalan ke toilet stasiun
yang ada di antara para pedagan yang masih mencari rezeki di malam yang terasa
lain di hati mereka berempat.
Mereka berempat segera berjalan masuk ke kereta.
Perlahan tapi pasti, kereta mulai berjalan meninggalkan Stasiun Lempuyangan.
Kereta mulai melaju cepat melewati hutan jati antara Madiun dan Nganjuk. Keenam
anak manusia ini pun sudah dari kantuknya, mulai bercanda lagi di kereta. Pagi
di luar sangat cerah seakan berdatangan menyambut rombongan yang jauh dari
rumah ini.
Pukul setengah tiga lebih mereka tiba di Stasiun
Malang. Matahari sore yang sudah enggan mengeluarkan panasnya datang menyambut.
Sebelum meninggalkan kereta, sekali lagi mereka pandangi kereta yang terdiam
lelah setelah berlari seharian penuh; kereta yang dalam diamnya telah banyak
bercerita tentang beragam manusia. Di stasiun Malang, rombongan pecinta alam
itu menarik perhatian banyak orang. Rasa pegal-pegal belum hilang benar
dari badan mereka sehingga mereka putuskan untuk duduk sebentar di bangku
stasiun yang panjang-meluruskan kaki dan menghilangkan penat.
Matahari sore masih tersisa sedikit, menembus
pepohonan di jalan desa kecil. Sore itu di Tumpang banyak sekali kesibukan
jip-jip menunggu pendaku yang mulai berdatangan dengan berbagai macam tas
carrier besar. Penampilan mereka mirip semua karena memang mempunyai tujuan
yang sama: MAHAMERU.
Mereka mulai melangkah, menyusuri jalan berbatu desa
yang akhirnya berbelok ke jalan setapak kecil menuju ke punggung Mahameru.
Perjalanan berlanjut menembus-mendaki pinggir hutan punggung Mahameru.Dari
ketinggian pinggiran lereng hutan Mahameru, Ranu Kumbolo perlahan muncul
seperti tetesan air raksasa yang jatuh dari langit dan membesar di depan
mereka.
Pukul 02.00 malam, dingin di atas tiga ribu meter.
Rombongan itu berdiri di depan tenda. Keenam anak manusia itu tertegun melihat
Mahameru dalam gelap malam. Rombongan mulai bergerak, berjalan melewati hutan
cemara yang gelap. Puncak Mahameru seperti sebuah gundukan pasir mahabesar
dengan tebaran batu karang gunung di mana-mana. Jalur pendakian terlihat terang
dipenuhi sinar bulan dan cahaya senter para pendaki mulai mendaki Mahameru.
Matahari pagi tujuh belas Agustus pun terbit, sinar
matahari yang hangat menyapa badan dingin mereka. Keenam anak manusia itu
seperti melayang saat menjejakkan kaki di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Waktu
seperti terhenti, dataran luas berpasir itu seperti sebuah papan besar
menjulang indah di ketinggian menggapai langit, di sekeliling mereka tampak
langit biru-sebiru-birunya-dengan sinar matahari yang begitu dekat. Awan putih
berkumpul melingkar di bawah mereka di mana-mana, asap putih tebal yang
membubung di depan mereka sekarang terlihat jelas sekali kepulannya. Para
pendaki tampak berbaris teratur di puncak Mahameru. Di depan barisan tertancap
tiang bendera bambu yang berdiri tinggi sendiri dengan latar belakang kepulan
asap Mahameru dan langit biru.
“Biarkan keyakinan kamu..
5 centimeter menggantung
mengambang di depan kamu.
Dan…sehabis itu
yang kamu perlu cuma
kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya,
tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya,
mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,
leher yang akan lebih sering melihat ke atas.
Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja,
hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya
serta mulut yang akan selalu berdoa…
percaya pada 5 centimeter di depan kening kamu”



